elmichaacademy@gmail.com 081-333-333-663
Mistisme Makam Kota Gede
15/11/2015

El’Micha academy – Spiritual adalah tentang sebuah perjalanan. Sebuah pembelajaran kehidupan tentang bagaimana kita berinteraksi dengan sesama manusia, berinteraksi dengan alam, dengan binatang, entitas, mahluk astral, dan dengan Sang Maha Tinggi.

Rekan-rekan  yang berteman dengan saya di Facebook (Roro) El’Micha tentunya sudah banyak melihat berbagai foto perjalanan saya mengunjungi tempat-tempat kramat, makam, rumah angker ataupun sekedar bermeditasi dan berinteraksi dengan alam. Namun saya belum menjabarkan pengalaman atau cerita perjalanan saya di sana.

Karena banyaknya permintaan kepada saya untuk berbagi cerita atau pengalaman pribadi saat mengunjungi tempat tempat tertentu,  maka dengan tulisan ini saya berbagi pengalaman pribadi selama saya melakukan perjalanan.

Ini adalah cerita tentang saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Makam Kota Gede pada tahun 2009.

Kompleks Pemakaman Kota Gede adalah kompleks pemakaman raja-raja Mataram, bertempat di daerah Kota Gede, Yogyakarta. Kompleks makam di kelilingi oleh tembok besar dan kokoh dengan gapura berciri arsitektur budaya hindu bernama Gapura Paduraksa.  Ada beberapa gapura yang harus dilewati sebelum saya masuk ke bangunan makam.

Saat itu saya datang bersama seorang teman yang sama-sama belum pernah ziarah ke tempat ini. Tidak membawa bunga, dupa atau apapun selayaknya orang akan mengunjungi makam untuk ziarah. Saya pun datang tidak dalam kondisi ada hajat khusus, hanya berniat ingin sowan, berziarah, dan membacakan doa untuk para raja dan keluarga yang dimakamkan di sana.

Sepanjang perjalanan menuju Makam Kota Gede, tidak ada firasat atau rasa istimewa apapun.  Waktu menunjukan pukul  20.30 wib saat kendaraan saya memasuki tempat parkir di area makam tersebut. Masih sempat bersenda-gurau sambil mematikan radio dan memasukkan barang-barang yang akan dibawa seperti hp, dompet dan lain-lainnya ke dalam tas, agar tidak tertinggal di mobil tanpa pengawasan. Mobil saya parkir di dekat pohon besar.

Kota Gede ElMicha Academy

Pertama kali kaki menginjak tanah, saya merasakan bumi bergetar beberapa saat. Getaran ini tidak lama memang, hanya sekitar 15-20 detik. Besarnya goncangan yang terasa membuat saya sempat tertegun, karena tidak ada satu orang pun di sekitar situ yang berlari. Saya masih berpikir itu adalah gempa, maka saya bertanya pada rekan soal apa yang saya rasakan.

Ternyata dia tidak merasakannya, hanya saya sendiri yang merasakannya. Jawaban rekan saya menjawab keheranan saya sebelumnya. Mengapa tidak ada seorangpun yang berlari. Sungguh sambutan yang luar biasa sekali dari Poro Sepuh .

Berjalan dari parkiran menuju gerbang pertama tidak begitu jauh. Mulai tercium  semerbak wangi bunga segar sekali dari sekeliling. Saya terus melangkahkan kaki saya hingga sekitar 50 langkah, badan saya mulai bergetar hebat, terasa aliran energi dari dalam tubuh ini bergejolak. Ada aliran energi dari luar yang bersentuhan dengan energi saya. Ini lah sambutan tiba-tiba kedua yang saya rasakan ketika menjejakkan kaki di Makam Kota Gede.

Samar saya melihat gerbang pertama diselimuti kabut tipis transparan, seperti ketika kita melihat uap air. Banyak orang berdiri berjejer seperti layaknya para pengawal sebuah kerajaan dengan pakaian seperti orang-orang jaman dahulu. Namun semakin didekati semakin samar. Hingga saya sampai di pintu gerbang orang-orang tersebutpun menghilang dari pandangan mata.

Menarik sekali sambutan yang diberikan, mengingat sesungguhnya saya bukanlah siapa-siapa dan tidak sedang mencari sensasi apa-apa dari perjalanan spiritual ini.

Sesampainya saya di dalam ternyata saya tidak diperkenankan masuk oleh salah satu juru kunci Makam Kota Gede, karena jam yang diijinkan untuk berziarah adalah jam 08.00-16.00 wib.

Saya sedikit kecewa, namun apa daya keteledoran ada di pihak saya. Saya dan rekan-rekan akhirnya duduk-duduk santai saja di sekitar situ. Namun tak lama berselang salah satu juru kunci yang sudah sepuh datang dan menghampiri kami. Beliau memberikan ijin kepada`kami untuk memasuki area makam dan mengatakan bersedia mengantarkan jika memang ingin masuk kesana.

Saya girang luar biasa. Dan sesuai dengan tata cara yang ada di Makam Kota Gede, setiap pengunjung diwajibkan berganti pakaian menggunakan adat jawa seperti layaknya abdi dalem jaman dahulu. Pria akan mengenakan beskap, sedangkan perempuan akan mengenakan jarit dan dilarang mengenakan alas kaki serta dilarang memotret.

Setelah semuanya siap, kami mulai berjalan menyusuri  area pemakaman untuk menuju bangunan utama makam. Langkah kaki kami ditemani lampu teplok yang dibawa oleh juru kunci. Suasana komplek pemakaman yang sunyi, diiringi semilir angin dingin dan vibrasi energy dari tempat ini yang cukup kuat menghadirkan suasana mistis yang sangat kental. Di dalam komplek pemakaman ini terdapat sebuah tempat pemandian khusus untuk putra dan satu lagi pemandian khusus untuk putri.

Konon menurut cerita yang berkembang  tempat pemandian atau sendang  ini dibangun sendiri oleh Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senopati.

Di sedang ini kita dapat mandi ataupun sekedar cuci muka. Airnya sangat segar dan dapat menghilangkan lelah seketika. Dalam diri ada sebuah perasaan aneh, semakin dalam masuk ke area pemakaman saya justru tidak merasa berada di pemakaman, tidak ada rasa takut atau merinding.

Yang saya rasakan malah sebaliknya, sebuah perasaan nyaman, rasanya seperti  berada di rumah sendiri, ada rasa haru, kangen dan girang campur aduk menjadi satu.  Entah saya berhalusinasi atau ini memang merupakan sambutan yang lain lagi, sepintas saya mendapat gambaran seperti berada di dalam area kraton, bukan di makam.

Sesampainya di pintu gerbang bangunan utama Makam Kota Gede, kami berhenti sejenak untuk melakukan sedikit ritual. Saat memasuki bangunan utama, suasana amat sunyi dan gelap. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari lampu teplok yang dibawa oleh juru kunci. Di dalam bagunan utama makam terdapat makam para tokoh tokoh Kerajaan Mataram, diantaranya makam Sultan Hadi Wijaya, Ki Gede Pamanahan, Panembahan Senopati, dan beberapa anggota keluarga kerajaan.

Kami berhenti di sisi Makam Panembahan Senopati. Kami mulai memanjatkan doa, lampu teplok pun dimatikan agar semakin khusuk. Tak terasa air mata mulai menetes, saya kembali didera rasa seperti rindu yang teramat sangat namun juga bahagia.

Saya sadar betul dan memang sangat terasa ada tangan yang mengusap kepala saya 3 kali, dibarengi dengan semilir angin dingin yang entah datangnya dari mana. Tak lama setelah itu badan mulai bergerak dengan sendirinya. Inilah yang dinamakan dengan gerak rasa.

Tangan perlahan terangkat keatas kepala seolah menghaturkan salam kepada semesta, kemudian turun ke dada dan menghaturkan salam bagi seseorang yang lebih sepuh. Selama gerak rasa terjadi air mata tak terbendung dan memang tidak bisa dihentikan, walau saya sendiri tidak tau kenapa saya menangis. Tanganpun kembali terangkat ke atas kepala, namun kali ini posisi kedua telapak tangan terbuka seolah kita akan menerima sesuatu.

Dengan sadar saya mengamati semua rasa yang timbul dan juga mengamati semua pergerakan anggota tubuh. Saya biarkan semua proses berjalan alami tanpa saya coba untuk interupsi atau saya hentikan. Tidak lama setelah itu saya meraskan ada sesuatu di telapak tangan berat sekali dan panas.

Perlahan saya mencoba untuk mencari tau apa yang ada ditangan dengan berusaha menggenggamnya. Setelah digenggam saya merasakan bahwa itu adalah seperti sebuah pedang berukuran panjang sekitar kurang lebih 1 meter. Entah pedang entah itu golok yang pasti bukan keris, karena saya tidak merasakan ada lekukan seperti layaknya sebuah keris.

Perlahan tangan mulai turun sampai posisi berada di depan dada. Perlahan tangan saya bergerak sendiri sampai menyentuh dada. Disaat itu pula terasa sekali ledakan energi dari dalam tubuh. Dalam pandangan batin saya, pedang yang tadi berada digenggaman kini telah menyatu dalam tubuh saya.

Saya terus mengamati dan rasakan perubahan suhu yang sangat drastis, dari mulai hawa dingin yang sampai menusuk tulang dan seketika berubah menjadi panas luar biasa setelah pedang tersebut masuk kedalam tubuh. Tanpa saya sadari keringat saya sudah bercucuran.

Setelah kondisi mulai stabil dan kembali pada kondisi normal saya kembali melanjutkan doa. Tidak lupa saya ucapkan syukur kepada Tuhan, alam semesta, alam gaib dan kepada semua astral yang saya rasakan kehadirannya. Saya berterima kasih atas apa yang saya alami dan atas apa yang saya dapatkan. Di akhir doa saya hanya berucap, “Semoga apa yang telah diberikan kepada saya membawa manfaat bagi perjalanan saya dan bagi orang orang yang saya temui dalam perjalanan”.

Saya tidak tau apa kegunaannya, siapa pemilik awalnya, siapa yang memberikan atau bahkan nama pusaka yang saya dapat saya tidak tau dan sesungguhnya saya tidak begitu perduli, sayapun tidak berminat untuk berusaha menghadirkannya sampai berwujud menjadi sebuah benda atau mencarikan wadah untuk apa yang telah didapat. Biarlah itu tetap tersimpan dalam tubuh dan semoga membawa manfaat. Setelah selesai berdoa di sana, saya pun menghampiri makam-makam yang lain dan melanjutkan mengirim doa.

Setelah semua selesai, kami kembali  ke pendopo tempat penyewaan baju. Saya berpamitan dengan semua juru kunci yang ada di sana dan kemudian pulang. Selama dalam perjalanan pulang saya masih merasakan seluruh badan bergetar, energi tubuh saya terasa penuh sekali sampai terasa luber.

Sungguh pengalaman yang luar biasa sekali dan saya bersyukur karenanya. Sampai dengan hari ini Makam Kota Gede menjadi tempat yang selalu menarik untuk dikunjugi setiap kali ada kesempatan ke Yogja. Dan di setiap kunjungan selalu ada kejadian menarik dan berkesan.

Lain kali saya akan ceritakan pengalaman lain saat saya kembali mengunjungi makam ini.


Comments

comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: